Milirik Perkembangan Persepakbolaan di Bima (Bagian II)

PSSI Harus Sering Gelar Kompetisi Resmi

KM Nggusuwaru – Cabang olahraga sepakbola memang selalu menyedot perhatian masyarakat. Tidak hanya di daerah, tetapi merupakan olahraga yang paling digemari di dunia. Namun, puluhan tahun perkembangan sepakbola di Indonesia masih belum ada kemajuan berarti. Justru sekarang jauh tertinggal dengan beberapa negara tetangga yang dulunya di bawah Indonesia.

Perkembangan sepakbola di daerah, jelas tak bisa dipisahkan dengan kondisi sepakbola kita di nasional. Karena itulah menurut praktisi sepakbola Kota Bima, Lukman mengapa sampai sekarang persepakbolaan kita masih stagnan dan belum berkembang. Hal itu ditambah lagi dengan perhatian pemerintah terhadap olahraga masih sangat kurang.

“Kita bisa lihat sendiri bagaimana dukungan fasilitas sepakbola di Kota Bima. Indra Sjafri saja kaget para pemain Persekobi hanya berlatih seadanya tanpa didukung lapangan memadai dan sekolah sepakbola,” kata pria yang akrab disapa Egi ini.

Faktor lainnya lanjut dia, kesadaran masyarakat masih kurang dalam mendukung terselenggaranya kompetisi atau pertandingan sepakbola. Itu terbukti seringnya terjadi keributan dan protes berlebihan hanya karena masalah sepele yang seharusnya bisa diselesaikan panitia dan komisi disiplin. “Kalau masalah sportivitas, saya melihat sudah cukup baik dan saya sangat peduli terhadap itu,” ujarnya.

Pelatih Tim Persekobi Usia 19 tahun ini menilai, tanggungjawab bersama seluruh elemen masyarakat harus terus didorong oleh pemangku kebijakan jika ingin persepakbolaan di Kota Bima maju. Sebab menurutnya, sepakbola bukanlah milik PSSI, FIFA atau segelintir orang tetapi milik semua masyarakat. Karena itu, satu saja yang menciderainya maka akan berimbas pada citra sepakbola.

“Karena ada provokasi yang tidak bertanggungjawab sehingga membuat sepakbola kerap diwarnai keributan. Padahal itu hanya ulah oknum saja. Meski pada saat pelaksanaannya serius, tetapi karena kesadaran masyarakat kurang karena belum terlalu menghargai aturan sepakbola,” nilainya.

Soal riak-riak keributan kecil yang terjadi tetapi masih bisa diatasi menurutnya, masih dalam konteks wajar. Hanya saja, kalau sudah anarkis dan meluas melibatkan masyarkat luas itu menjadi tidak wajar. “Dulu kan aturan sepakbola, kalau ada pemukulan wasit itu sudah sangat buruk dan tidak seharusnya terjadi. Saya sepakat, bahwa sepakbola ini milik masyarakat bukan hanya milik PSSI. Sehingga semua elemen masyarakat harus bisa menjaga dan memajukan sepakbola secara bersama,” ujarnya.

Khusus di Bima lanjutnya, budaya sepakbola plastik memang sampai saat ini masih dipertahankan masyarakat. Kerap kali, kompetisi sepakbola plastik inilah yang memicu keributan. Sebab tidak ada aturan baku sebagai acuan penyelenggaraan. Sehingga ketika terjadi protes tidak ada referensi untuk menegakkan aturan. Untuk itu, sebenarnya pemerintah daerah dan Kepolisian tidak langsung memberikan ijin sepakbola bila tidak ada rekomendasi dari PSSI.

Untuk mengeliminir kompetisi sepakbola plastik, Ia mendukung langkah Pengcab PSSI Kota Bima saat ini menggiatkan penyelenggaraan kompetisi resmia, meski baru sebatas antar kelurahan. Dinilainya itu sangat bermanfaat untuk mencari bibit pemain muda dan berbakat Kota Bima. Egi pun yakin banyak potensi pemain di Bima dan tidak kalah dengan daerah lain. Seperti baru-baru ini tiga pemain Persekobi lolos seleksi akademi sepakbola di Jogjakarta milik Indra Sjafri.

“Cuman memang perlu ada perhatian serius pemerintah untuk memajukan sepakbola di Bima, seperti menyediakan fasilitas dan mendukung pelaksanaan kompetisi sebagai ajang pembinaan pemain,” tandasnya. (AD) -01

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru